Pengertian Dan Metode Line Balancing

Pengertian Line Balancing -  Konsep line balancing yaitu metode manufaktur berupa analisis yang berfungsi dengan penugasan sejumlah pekerjaan ke dalam stasiun kerja saling berafiliasi di suatu lintasan atau lini produksi. Jika melihat dari metodenya secara umum line balancing berarti pengaturan kapasitas mesin untuk mengamankan arus yang relatif seragam pada operasi.


Prinsip dasar dan tujuan penyeimbangan lini produksi (line balancing) merupakan menugaskan operasi ke setiap workstation sedemikian rupa sehingga hanya ada sedikit waktu menganggur (waste atau pemborosan). Terminologi yang terkait dengan analisis line produksi mengedepankan semua elemen acara bernilai tambah (Value Addded).


Makalah lainnya7 Wastes - Pemborosan Dalam Lean


Line balancing (manajemen produksi dan operasi) yaitu suatu seni administrasi penyeimbangan lintasan produksi dengan melibatkan penetapan tingkat produksi direncanakan untuk bahan-bahan yang dibutuhkan supaya dibentuk dalam jangka waktu tertentu.


Manajemen Produksi dan Operasi


Strategi line balancing atau penyeimbangan lini produksi yaitu menciptakan jalur produksi cukup fleksible untuk menyerap ketidaksuburan eksternal juga internal. Strategi akan menjadi perangkat yang efisien untuk menyebarkan stasiun kerja sambil mengurangi kebutuhan dan biaya tenaga kerja. Line-balancing sedikit berbeda dengan penyeimbangan jalur perakitan. Perimbangan jalur perakitan melibatkan tindakan mengumpulkan bab yang berbeda secara bersamaan. Ini melibatkan banyak jalur produksi sementara penyetelan garis normal hanya sanggup melibatkan satu jalur produksi.


Assembly Line Balancing merupakan masalah menugaskan operasi ke workstation di sepanjang jalur perakitan, sedemikian rupa sehingga kiprah menjadi terbaik dalam beberapa hal. Sejak diperkenalkannya lini perakitan oleh spesialis yaitu Henry Ford, Line-balancing telah menjadi masalah optimalisasi kepentingan industri penting. Perbedaan efisiensi antara penetapan optimal dan suboptimal sanggup menghasilkan ekonomi yang mencapai jumlah besar per tahun.


Teknik penyeimbangan lini dipakai secara normal di lini perakitan industri otomotif yang disebut ALB. Sebagian besar Industri Kecil dan Menengah tidak menggunakan metode penyeimbangan lini di lini produksi.


Berikut yaitu definisi dan pola sederhana dari penyeimbangan lini produksi atau Line Balancing:
  • Semua orang melaksanakan pekerjaan yang sama.
  • Melakukan jumlah pekerjaan yang sama sesuai kebutuhan pelanggan
  • Variasi lebih 'rapih'
  • Tidak ada yang terbebani
  • Tidak ada yang menunggu
  • Semua orang bekerja bersama dalam mode balanced

Metode Line Balancing


Menurut ahlinya (Halim, 2003), metode untuk line balancing itu sendiri terdiri dari metode-metode seperti:

1. Simulasi           


Metode simulasi berdasarkan pengalaman (kualitatif). Simulasi itu sendiri yaitu duplikasi dari duduk kasus dalam kehidupan konkret kedalam suatu model-model matematika yang biasanya dilakukan dengan menggunakan komputer. Dalam Subagyo;1983, yang termasuk kedalam metode simulasi adalah
  • COMSOAL (Computer Method Squercing Operation of Assembly Line)
  • CACB (Computer Assembly line or Aided Line balancing)
  • ALBACA (Assembly Line balancing An Control Activity)


2. Heuristic


Metode Heuristic yaitu seni dan ilmu pengetahuan yang berafiliasi dengan suatu penemuan. Heuristik berkaitan dengan pemecahan masalah yaitu cara menujukan pemikiran seseorang dalam melaksanakan proses pemecahan hingga masalah tersebut berhasil dipecahkan.


Secara umum metode ini sanggup dikatakan berdasarkan pengalaman (kualitatif) atau intuisi. Termasuk didalamnya:


Ranked Positional Weight atau Hegelson and Birnie

Metode RPW (Ranked Positional Weight) yaitu metode pertama kali diusulkan oleh Helgeson dan Birnie sebagai salah satu pendekatan dalam memecahkan permasalahan pada keseimbangan lini serta menemukan solusi dengan cepat. Konsep dari metode Ranked Positional Weight, menentukan jumlah stasiun kerja minimal dan melaksanakan pembagian task ke dalam stasiun kerja dengan cara menawarkan bobot posisi kepada setiap task sehingga semua task telah ditempatkan kepada sebuah stasiun kerja. Bobot setiap task, misal task ke-i dihitung sebagai waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan task ke-i ditambah dengan waktu untuk mengeksekusi semua task yang akan dijalankan sesudah task ke-i tersebut.


Urutan langkah-langkah pada metode Ranked Positional Weight (RPW) yaitu sebagai berikut:
  1. Lakukan penghitungan bobot posisi untuk setiap task. Bobot posisi setiap task dihitung dari bobot suatu task ditambah dengan bobot task-task setelahnya.
  2. Lakukan pengurutan task-task berdasarkan bobot posisi, yaitu dari bobot posisi besar ke bobot posisi kecil.
  3. Tempatkan task dengan bobot terbesar ke sebuah stasiun kerja sepanjang tidak melanggar precedence constraint dan waktu stasiun kerja tidak melebihi waktu siklus.
  4. Lakukan langkah 3 hingga semua task telah ditempatkan kepada suatu stasiun kerja.



Region Approach atau Kalbridge and Wester

Metode Kilbridge Wester yaitu metode yang dirancang oleh M.Kilbridge dan L.Wester sebagai pendekatan lain untuk mengatasi permasalahan  keseimbangan lini. Metode ini, dilakukan pengelompokan task-task ke dalam sejumlah kelompok yang memiliki tingkat keterhubungan yang sama.


Langkah-langkah yang dipakai metode Kilbridge Wester yaitu sebagai berikut :

  1. Lakukan pengelompokan beberapa task ke dalam kelompok yang sama. Misalnya Kelompok ke-I berisi task-task yang tidak memiliki task pendahulu, Kelompok ke-i+1 berisi task-task yang memiliki task pendahulu di Kelompok ke-i, Kelompok ke-i+2 berisi task-task yang memiliki task pendahulu di Kelompok ke-i+1 dan sebagainya hingga semua task telah dimasukkan ke suatu kelompok.
  2. Lakukan penempatan task-task di suatu kelompok, dalam hal ini diawali kelompok 1, ke dalam sebuah stasiun kerja yang sama, ambil hasil penggabungan terbaik, yaitu waktu total semua task mendekati atau sama dengan waktu siklus. Jika penempatan sebuah task ke dalam stasiun kerja menyebabkan waktu total semua task yang berada di stasiun kerja bersangkutan melebihi waktu siklus, maka task tersebut ditempatkan di stasiun kerja yang berikutnya. Hapus task-task yang telah ditempatkan dari kelompok yang bersangkutan.
  3. Jika terdapat beberapa task-task yang belum ditempatkan di suatu stasiun kerja dan waktu totalnya berjumlah kurang dari waktu siklus, lanjutkan penggabungan dengan task di setelahnya, dalam hal ini Kelompok 2.
  4. Lakukan kembali langkah 2 dan 3 hingga semua task telah tergabung dalam suatu stasiun kerja



3. Analitic


Metide analitic atau matematis yaitu metode berdasarkan perhitungan kualitatif, yang termasuk metode ini yaitu branch and bound.


Akan tetapi berdasarkan Purnomo, 2004, Menyatakan bahwa penyeimbangan lini perakitan sanggup dilakukan metode;
  • Kilbridge-wester heuristic.
  • Helgeson-birnie.
  • Moodie young.
  • Immediate updater First-Fit Heuristic.
  • Rank and assign heuristic.


Dari metode-metode diatas umumnya banyak yang menggunakan metode Kilbridge-wester heuristic, Helgeson-birnie dan Moodie young. Kembali lagi tergantung atau menyesuaikan dengan kondisi dari pelaksana itu sendiri.


Manfaat & Tujuan Line Balancing


Dari metode diatas sanggup dikatakan bahwa Line balancing bertujuan:
  1. Salah satu kemungkinan ke arah maksimal, sejauh menyeimbangkan lini yang bersangkutan, akan meningkatkan output.
  2. Produk lain sanggup dikirim mendekati yang pertama sehingga beberapa mesin menganggur sanggup dipakai bersama-sama.
  3. Memperkirakan output dari stasiun kerja terakhir. Ini sanggup dianggap sebagai output minimum dari semua stasiun kerja menengah.

Adapun tujuan dari Line balancing berdasarkan Gaspersz, 1998:
  1. Menyeimbangkan beban kerja yang dialokasikan pada setiap workstation sehingga setiap workstation selesai pada waktu yang seimbang dan mencegah terjadinya bottle neck. Bottle neck yaitu suatu operasi yang membatasi output dan frekuensi produksi.
  2. Menjaga semoga pelintasan perakitan tetap lancar dan berlangsung terus menerus.
  3. Meningkatkan efisiensi atau produktifitas


Perataan produksi, juga dikenal sebagai penghalusan produksi atau dalam istilah orisinil Jepang heijunka (平 準 化) yaitu teknik untuk mengurangi Mura (Unevenness) yang pada gilirannya mengurangi muda (pemborosan).


Baca: Pengertian Mura, Muri Dan Muda Dalam Pelaksanaan Lean Manufacturing


Ini penting untuk pengembangan efisiensi produksi di Toyota Production System dan lean manufacturing. Tujuannya yaitu untuk menghasilkan barang setengah jadi pada tingkat yang konstan sehingga pemrosesan lebih lanjut juga sanggup dilakukan pada tingkat yang konstan dan sanggup diprediksi.


Jika undangan konstan, perataan produksi gampang dilakukan, namun jikalau undangan pelanggan berfluktuasi, dua pendekatan telah diadopsi:
  • Tingkat permintaan 
  • Perataan produksi melalui produksi fleksibel.


Untuk mencegah fluktuasi produksi, bahkan di luar afiliasi, penting untuk meminimalkan fluktuasi di jalur perakitan akhir. Jalur perakitan selesai Toyota tidak pernah merakit model kendaraan beroda empat yang sama dalam satu batch. Sebagai gantinya, mereka tetapkan produksi dengan menggabungkan adonan model dalam setiap batch dan batch dibentuk sekecil mungkin.


Adapun manfaat dan laba sanggup diperoleh dari perencanaan lini produksi yang baik dalam perusahaan manufaktur akan meningkatkan produktivitas perusahaan. Adapun laba lainnya berupa:
  1. Jarak perpindahan material yang minim diperoleh dengan mengatur susunan dan daerah kerja.
  2. Aliran benda kerja (material), meliputi gerakan dari benda kerja yang kontinu. Alirannya diukur dengan kecepatan produksi dan bukan oleh jumlah spesifik
  3. Pembagian kiprah terbagi secara merata yang diadaptasi dengan keahlian masingmasing pekerjaan sehingga pemanfaatan tenaga kerja lebih efisiensi
  4. Pengerjaan operasi yang serentak yaitu setiap operasi dikerjakan pada dikala yang sama di seluruh lintasan produksi 
  5. Operasi unit 
  6. Gerakan benda kerja tetap sesuai dengan set-up dari lintasan dan bersifat tetap
  7. Proses memerlukan waktu yang minimum Persyaratan yang harus diperhatikan untuk menunjang kelangsungan lintasan produksi

Ini merupakan pola kasus yang menjadi soal penyelesaian ketika menerapkan penyeimbangan lini dan pola ini saya ambil dari manufaktur di daerah kerja kami.


Dari pola soal praktek line balancing diatas sanggup terlihat bagaimana tim kerja melaksanakan cara menghitung line balancing untuk sebuah pola dalam kasus sewing yaitu yang memproduksi jaket.


Keseimpulan Pengertian dan Metode Line Balancing dalam Proses Produksi


Sebelum memulai menerapkan penyeimbangan lini (line balancing) ada baiknya ketahui dahulu prinsip dasar dan istilah-istilah yang dibutuhkan dalam praktek line balancing.


Adapun istilah tersebut ibarat Cycle Time dan Takt Time:

1. Waktu Siklus (Cycle Time)

  • Waktu yang dibutuhkan satu workstation dalam sebuah proses untuk menuntaskan beban kerjanya untuk memproses suatu bagian.
  • Waktu Siklus atau Cycle time yaitu waktu yang telah berlalu untuk memindahkan unit kerja dari awal hingga selesai proses fisik.

Catatan: Cycle Time tidak sama dengan Lead Time.


2. Takt-Waktu

Formula atau rumus dari Takt-time = Waktu werja normal per Hari / Permintaan Pelanggan per Hari

  • Takt Time tetapkan 'ketukan' organisasi selaras dengan undangan pelanggan.
  • Salah satu dari tiga elemen Just In Time (bersama dengan ajaran one-piece dan pull downstream)
  • Takt Time menyeimbangkan beban kerja banyak sekali sumber dan mengidentifikasi kemacetan.
  • Seringkali kecepatan siklusnya tergali dengan kecepatan waktu atau mesin.
  • Takt Time berasal dari kata Jerman 'takt' artinya irama atau beat. Takt Time adalah istilah yang sering dikaitkan dengan takt set konduktor sehingga orkestra berperan serempak.
  • Takt Time dipakai untuk menyesuaikan kecepatan kerja dengan kecepatan rata-rata undangan pelanggan.
  • Takt bukan angka yang sanggup diukur
  • Takt Time mungkin kurang dari, lebih dari atau sama dengan Takt Time.
  • Anda tidak sanggup mengukur Takt Time dengan stop watch. Anda harus menghitungnya dengan rumus.
  • Takt Time dinyatakan sebagai "detik per potong", memperlihatkan bahwa pelanggan membeli produk setiap beberapa detik sekali. Waktu Takt tidak dinyatakan sebagai "potongan per detik"








Daftar Pustaka


Abdul Halim. 2003. Analisis Investasi. Edisi Pertama, Penerbit Salemba Empat,
Jakarta.

Subagyo Pangestu. 1983. Dasar-Dasar Operations Research. BPFE, Yogyakarta.

Purnomo, Hari. 2004. Pengantar Teknik Industri. Yogyakarta, Graha Ilmu.

Vincent Gaspersz, Dr, D.Sc., CFPIM, CIQA, 1998. Production Planning And Inventory Control: Berdasarkan Pendekatan Sistem Teritegrasi MRP II dan JIT Menuju Manufacturing 21, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel